Kisah Pengusaha Sukses Agus Pramono

10:14 AM 0

Cerita Pengusaha Sukses Tukang Ayam




Bagi Anda para pecinta kuliner, terutama ayam bakar,mungkin sudah tidak asing lagi dengan nama koki dadakan ini,yaitu Agus Pramono yang berjaya melalui bisnis kulinernya ''Ayam Bakar Mas Mono" cerita pengusaha sukses Agus mungkin bisa dibilang barang langka. Urip kaya cakra manggilingan, Artinya hidup ini ibrat roda yang berputar terkadang diatas terkadang dibawah. Filosofi hidup itulah yang dimaknai secara mendalam oleh Agus Pramono, Bos Ayam bakar Kalasan (Mas Mono) yang kini mempunyai tujuh outlet dan tersebar di berbagai wilayah di jakarta dan melayani jasa catering untuk Anteve, Trans TV dan TV7

Kesuksesan itu bisa didapat dari mana saja. Selama kita bisa memadukan antara niat dan usaha, maka kesuksesan itu bisa terwujud. Karena, pada dasarnya kesuksesan dari cerita pengusaha sukses adalah perpaduan unik antara kebulatan niat, usaha yang maksimal dan rasa optimis yang tinggi.  Selain Agus tidak memiliki ilmu dan keahlian dalam masak memasak, Agus juga tidak memiliki pengalaman pekerjaan sebagai seorang koki.

Cerita Pengusaha Sukses Dimulai Dari SMA


Setelah lulus SMA pada tahun 1994, Mono hijrah dari madiun ke jakarta pada tahun 1994, setamat dari sekolah menengah atas di kota brem tersebut. Di jakarta Ia bekerja sebagai karyawan restorant cepat saji California Fried Chicken sebagai coocker. Tiga tahun kemudian atau 1997 ia keluar dari CFC, untuk memegang operasional rumah makan yang melayani jasa catering even-even khusus. kebetulan pada tahun itu, properti mengalami booming sehingga banyak sekali peluncuran perumahan-perumahan yang membutuhkan jasa catering. Namun perjalanan hidup, tak ubahnya air yang pasang surut. akhir tahun 1997 atau awal 1998, krisis ekonomi mendera kawasan ASIA, termasuk Indonesia.

Tak lama kemudian, Agus pun mendapatkan sebuah pekerjaan sebagai seorang sales kacang. Ia harus menjajakan kacang dari satu warung ke warung lainnya. Tidak hanya itu saja, setelah Agus selesai menjadi seorang sales kacang, Agus berubah menjadi seorang pengasuh, yaitu dengan cara mengasuh anak-anak dari sang kakak.

Setelah menjadi seorang sales kacang, Agus pun mendapatkan sebuah tawaran untuk menjadi seorang Office Boy (OB) di sebuah kantor yang terletak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kala itu Agus sebenarnya sangat malu karena dialah yang memiliki pendidikan paling tinggi diantara saudara-saudaranya, namun justru dialah yang memiliki penghasilan paling rendah. Kala itu, uang benar-benar menjadi sebuah masalah bagi Agus. Karena kekurangan uang, ia tidak bisa mudik di waktu lebaran.

Meski sudah berusaha keras untuk mendapatkan hasil tambahan, tetapi tuntutan ekonomi berkembang jauh lebih pesat, sehingga mono merasa posisinya sebagi karyawan tidak bisa dipertahankan lagi. Ia berfikir untuk keluar dan memulai usaha sendiri.
Modal cekak membuatnya berfikir keras, usaha apa yang cepat mendatangkan uang sehingga bisa menambal kebutuhan sehari-hari. Terlintas dibenaknya untuk membuat warung makan seperti yang berada di dekat kantornya. Namun dengan uang Rp. 500rb di tangan jelas tidak cukup dijadikan modal untuk mendirikan warung makan.

Karena kekurangan uang juga, ia tidak bisa pulang kampung untuk menjenguk ayahnya yang sedang terbaring sakit. Bahkan, karena kekurangan uang juga, ia tidak bisa menghadiri upacara pemakaman sang ayah tercinta. Hanya genangan air mata sajalah yang sanggup menggambarkan betapa sedihnya Agus kala itu.

Tidak mau terpuruk lebih lama lagi, Agus pun bangkit. Ia mencoba berbagai cara untuk bisa survive. Salah satu jalan yang dipilihnya adalah dengan berjualan gorengan. Agus mendorong gerobak gorengannya dari komplek yang satu ke komplek yang lain, dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain.



Terkadang, Agus sering menyembunyikan sisa gorengannya di dalam gerobaknya. Pada suatu hari ketika Agus melewati daerah Tebet, ia terpikir untuk membuat sebuah warung ayam bakar. Dengan meminjam modal ke beberapa temannya, Agus pun memberanikan untuk menekuni bisnis yang sangat awam baginya tersebut yang membawanya menjadi sebuah cerita pengusaha sukses


Titik Balik Pengusaha Ayam Bakar

<a href="http://www.ceritaummi.com/tokoh-inspiratif-indonesia-rina-gunawan/">kisah orang sukses</a>
Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dari perusahaan tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem. Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir, apalagi menghitung rugi laba. Yang terpenting adalah melakukan action.

Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam tersebut harus dibersihkan dulu.

Pada tahun 2004, nasib naas menimpaAgus. Kala itu, warung tendanya digusur karena tempat tersebut hendak dibangun sebuah pom bensin. Meskipun dengan berat hati, Agus pun tidak berniat untuk melakukan protes. Ia tetap mencoba survive untuk kembali membangun warung tendanya.



Mulai tahun 2007, Agus mulai menggunakan namanya  "Mono" untuk label warungnya, yaitu "Ayam Bakar Mas Mono" Kesuksesan pun memihak padanya. Warungnya semakin laris dari hari ke hari. Bahkan hingga sekarang, Agus sudah berhasil mengantongi uang minimal ratusan juta rupiah untuk tiap bulannya

Kisah Pengusaha Sukses Eka Tjipta Wijaya

3:00 AM 0

Cara Menjadi Orang Sukses Seorang Lulusan SD


Siapa yang tidak kenai dengan Eka Tjipta Widjaja? Eka Tjipta Wijaya adalah seorang pebisnis Indonesia yang cukup ternama. Ia terlahir di Coan Ciu, Fujian, Republik Rakyat Cina dengan nama asli Oei Ek Tjhong pada 3 Oktober  1923. Selain itu,  Eka Tjipta Wijaya juga merupakan pendiri Sinar Mas Grup. Bersama Sinar Mas Group, akhirnya kisah pengusaha sukses Eka Tjipta pun berhasil menjadi seorang pebisnis yang tidak bisa diremehkan lagi. Perlu untuk diketahui bahwa sekarang namanya telah berhasil duduk di posisi ketiga dalam daftar sepuluh orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes 2011. Menurut data Forbes 2011, Kisah Pengusaha Sukses Eka Tjipta tercatat telah memiliki kekayaan sebesar US$ 8 miliar. Eka Tjipta adalah salah satu dari beberapa pengusaha yang besar di masa Orde Baru. Ia sempat meredup ketika Indonesia sedang terjangkit "krisis moneter".

Namun Eka Tjipta tidak pernah menyerah, ia terus berusaha dan akhirnya bisa bangkit lagi seperti sekarang. Namun tahukah Anda bahwa kisah  sukses milyader tersebut tidak pernah mengenyam pendidikan dengan sempurna seperti para pebisnis lainnya. Eka Tjipta merupakan seseorang yang lahir dalam keluarga yang tidak terlalu kaya atau bolen dibilang pas pasan, pas butuh pas gak ada. Perjalanan hidup seorang Eka Tjipta Wijaya tidaklah semulus apa yang diperkirakan oleh orang banyak. Sejak awal, Eka Tjipta sudah ditempa oleh berbagai macam tantangan hidup. Salah satunya adalah ia dan keluarganya harus bisa bertahan hidup dalam kemiskinan. Kemudian ia bersama ibunya pun harus pindah ke Makassar pada tahun 1932.

Saat itu, Eka Tjipta baru berusia 9 tahun. Setibanya di Makassar, Eka kecil yang saat itu masih dengan nama Oei Ek Tjhong pun segera membantu ayahnya yang sudah lebih dulu tiba dan mempunyai toko kecil. Di toko tersebut, Eka kecil membantu ayahnya untuk berjualan.


Turun Naik Kisah Pengusaha Sukses


Pengalamannya dalam 'berjualan telah membentuk Eka Tjipta sebagai seorang pedagang. Akhirnya, dia pun memutuskan untuk berusaha sendiri di usianya yang baru menginjak 15 tahun. Untuk pertama kalinya, Eka Tjipta mencoba dengan berjualan gula-gula dan biskuit. Karena ia masih belum memiliki modal untuk membeli gula-gula dan biskuit terse but, Eka Tjipta pun bermaksud untuk mengambil barang dagangan terlebih dulu, dan membayarnya bila barang dagangan tersebut sudah laku. Tapi jangan dikira bahwa Eka Tjipta bisa dengan mudah dipercaya orang untuk menjualkan barangnya.

Ia sering mendapatkan penolakan dari berbagai macam toko grosir, baik penolakan secara halus maupun secara kasar. Namun penolakan tersebut tidak membuat Eka Tjipta menyerah. Dalam pikiran bocah berusia 15 tahun tersebut, hanya ada satu keinginan yaitu untuk tetap survive demi merubah nasib keluarganya. Berbagai macam hal pun dilakukannya untuk membuat toko grosir tersebut bisa mempercayai Eka Tjipta. Salah satu caranya adalah dengan cara memberikan ijazah SD Eka Tjipta sebagai jaminan dan identitas untuk mengambil barang-barang dagangannya.

Ternyata cara tersebut bisa dibilang cukup ampuh untuk "merebut hati" pemilik grosir agar bisa mempercayai Eka untuk menjualkan barang dagangannya. Bahkan, Eka Tjipta juga diperbolehkan menjualkan barang dagangan tersebut tanpa harus memberikan uang muka terlebih dahulu. Pada saat itu, Eka Tjipta dipercayai untuk menjual empat buah kaleng biskuit dan gula-gula kembang senilai 21,50 gulden.

Dengan barang jualan tersebut, Eka Tjipta pun semakin bersemangat untuk berjualan dengan menggunakan sepedanya ke toko-toko di wilayah Makasar. Eka Tjipta adalah seorang anak kecil yang ulet dan pekerja keras, maka jangan heran hila hanya dalam beberapa bulan saja, Eka sudah bisa membeli becak untuk mengangkut barang-barang dagangannya tersebut.

Namun sayangnya, bisnis yang dijalani Eka Tjipta pun mulai goyah ketika Jepang datang ke Makassar pada tahun 1941. Bisnis Eka Tjipta pun terpuruk dan akhirnya ia jatuh miskin lagi. Eka Tjipta bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia harus terus berusaha keras agartujuannya untukmemperbaiki kehidupannya bisa terwujud nyata. I a pun tak pernah berhenti mengayuh sepedanya untuk mencari ide bisnis baru.

Ia terus memutar otaknya dan berpikir apa yang seharusnya ia lakukan saat itu. Sampailah ia ke Paotere, yaitu sebuah tern pat di pinggiran Makassar (kini Paotere sudah menjadi salah satu pangkalan perahu terbesar di luar Jawa). Di situ ia melihat betapa ratusan tentara Jepang sedang mengawasi ratusan tawanan pasukan Belanda. Pada suatu hari, Eka melihat truk-truk tentara Jepang yang sedang membuang bongkahan. Kemudian, Eka pun berlari menuju tempat tersebut. Di tempat itu, Eka melihat bersak-sak tepung terigu, semen, besi-besi bekas, dan barangbarang lainnya.

Eka pun tersenyum dan mulai berpikir untuk memanfaatkan barang-barang itu agar bisa digarap lagi untuk dijual kembali. Eka yakin bahwa barang-barang tersebut akan bisa laku keras. Eka Tjitpa pun segera bergegas pulang ke rumah dan ia membuka tenda untuk menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang yang ada di lapangan kerja itu. Sekitar pukul empat subuh, Eka segera mengayuh sepeda menuju Paotere untuk menjual kopi, gula, kaleng bekas minyak tanah yang sudah diisi dengan air, oven kecil berisi a rang untuk membuat air panas, cangkir, sendok dan sebagainya.

Untuk pertama kalinya, ia pinjam alat-alat masak dari ibunya dan ia juga meminjam enam ekor ayam milik ayahnya. Setelah itu, dengan ketekunan dan keahliannya, Eka pun mulai memotong ayam tersebut dan membuat ayam putih gosok garam. Tidak hanya itu saja, Eka Tjipta juga diperbolehkan untuk meminjam satu botol wiskey, satu botol brandy dan satu botol anggur dari teman-temannya.

Setiap permulaan pastilah akan terasa berat, hal tersebut juga dialami oleh Eka Tjipta. Ia harus menelan kenyataan pahit, bahwa tak satupun tawanan Belanda yang mampir kelapaknya untuk membeli sesuatu. Namun hal tersebut tidak membuatnya menyerah. Eka pun segera mendekati komandan yang terdapat di tempat itu. Kemudian Eka memberikan komandan tersebut dengan makanan dan minuman secara gratis.

Kemudian komandan tersebut pun merekomendasikan para tawanannya untuk makan minum di tenda Eka. Setelah mereka semua puas menikmati sajian tersebut, Eka pun segera minta izin untuk membawa semua barang yang sudah dibuang. Karena barang yang dibuang oleh tentara Jepang tidaklah sedikit, Eka mengumpulkan anak-anak kampung untuk mengangkati barang-barang tersebut. Untuk jasa anak-anak kampung tersebut, Eka membayarnya dengan 5-10 sen.

Eka pun segera memilih barang manakah yang masih pantas untuk dijual. Kemudian Eka menaikkan harga barang-barang terse but. Bila pada awalnya, barang satu karung dihargai Rp.50, ia menjualnya menjadi Rp.60. Namun karena permintaan dari barang-baran!rtersebut lumayan tinggi, maka Eka pun menaikkannya menjadi Rp. 150. Tidak hanya itu saja, Eka juga menaikkan harga semen yang dulunya hanya Rp. 20/karung menjadi Rp.40.jkarung. Pada suatu hari, Eka Tjipta pun memutuskan untuk mengganti usahanya dari penjual semen dan besi be ton menjadi penjual kopra.



Motivasi Dari Kisah Pengusaha Sukses


Eka tidak mengeluh karena transportasi yang saat itu memang susah. Eka harus berlayar ke Selayar (Selatan Sulawesi) untuk mendapatkan kopra yang lebih murah. Dari bisnis barunya tersebut, Eka mendapatkan untung yang lebih. Namun sayanya, Jepang kembali berulah. Jepang membuat peraturan sepihak yang menyatakan bahwa penjualan minyak dikuasai oleh Mitsubishi yang memberi Rp.1,80 I kaleng, padahal harga sebenarnya adalah Rp. 6. Meskipun Eka lemas dan tak berdaya saat itu, namun itu semua tidak membuatnya berhenti berusaha. Di usia senjanya, Eka Tjipta membangun PT. Tjiwi Kimia dan memproduksi 10.000 ton kertas (sekarang sudah naik menjadi 600.000 ton). Di usianya yang ke-57, ia mulai merambah ke bisnis kelapa sawit. Untuk bisnis kelapa sawitnya, ia memulai dengan membangun lahan sebesar 10 ribu hektar di Riau dengan mesin pabrik yang memiliki kapasitas 60ribu ton. Tidak hanya itu juga, ia masih memiliki perkebunan teh. Eka Tjipta mengaku bahwa ia membangun pabrik teh seluas 1.000 hektar dengan kapasitas 20 ribu ton.

ltulah sedikit kisah tentang kisah pengusaha sukses dan kerja keras seorang Eka Tjipta Wijaya. Modal kerja kerasnya tersebut ternyata berbuah manis. Ia sudah memiliki banyak sekali perusahaan bisnis yang meliputi bisnis finansial, bubur kertas (pulp) dan kertas, agrobisnis, dan real estate. Tidak hanya itu saja, pengalaman masa kecilnya yang jauh dari dunia kependidikan membuatnya menjadi seorang pemerhati pendidikan anak. ltulah yang membuat sosok Eka Tjipta mendapatkan rekor MURI karena jasanya dalam dunia pendidikan. Ia banyak memberikan beasiswa kepada anak anak usia sekolah.


Perjalanan Pengusaha Sukes  Eka Tjipta Wijaya



3 Oktober 1923
Eka Tjipta dilahirkan di Hokian, China

1931 (usia 8 tahun)
Eka Tjipta hijrah ke Makasar

1932 (usia 9 tahun)
Pada usia 9 tahun, ia mencoba berdagang dari pintu ke pintu, dan menjajakan produk toko eceran milik orangtuanya.

1938-1941 (usia 15-18 tahun)
Usia 15 tahun jiwa entrepreneurship Eka Tjipta semakin tumbuh. Bermodalkan jaminan ijazah SD, ia berdagang kecilkecilan, seperti biskuit dan permen.

1942-1945 (usia 19-22 tahun)
Berdagang barang bekas sisa peledakan pelabuhan semen oleh tentara Belanda. Lalu berkembang menjadi pemborong rumah. Ia mulai menggeluti bisnis minyak kelapa dengan bermodalkan 4.000 kaleng minyak kelapa. Namun bisnis ini gagal karena peraturan monopoli perdagangan minyak oleh
tentara Jepang. Eka juga .melirik bisnis terigu, dan akhirnya beralih ke industri rumahan kembang gula. Hasil keuntungan ikumpulkan untuk investasi tanah.

1945-1949 (usia 22-26 tahun)
Usaha grosir produk makanan dan sebagai rekanart ClAD (Corps lntendans Angkatan Darat TNI)



1950-1955 (usia 27-32 tahun)
Pedagang kopra, bahan baku minyak kelapa.



1957 (usia 34 tahun)
Berdagang hasil bumi, dari Surabaya dijual ke Manado, dari Manado menjual kopra dan buah pala ke Makassar. Pada Juni 1957 ia memiliki 4.000 ton kopra

1960 (usia 37 tahun)
Hijrah ke Surabaya. Eka memiliki kebun kopi dan kebun karet di }ember, pabrik minyak kelapa dan penggilingan padi di Ciluas, Serang. Namun perusahaan merugi, perusahaan dijual separuh harga. Lalu dia mendirikan CV Sinar Mas yang melakukan ekspor hasil bumi dan impor tekstil.



1976 (usia 53 tahun)
Mendirikan PT Tjiwi Kimia yang bergerak di bidang bahan kimia, yang kemudian berkembang menjadi pabrik kertas .




1980 (usia 57 tahun)

Mendirikan perkebunan kelapa sawit melalui PT Smart.



1982 (usia 59 tahun)
Pernah memiliki Bank International Indonesia (BII). Saat ini Sinarmas Grup mengoperasikan Bank Sinarmas (sebelumnya bernama Bank Shinta).



1984 (usia 61 tahun)
Membeli perusahaan kertas PT Indah Kiat Pulp & Paper di Tangerang. Sebelum dibeli Eka Tjipta, produksi Indah Kiat 50.000 ton per tahun, setelah dipegang Eka selama 10 tahun,
naik menjadi 700.000 ton pulp per tahun. Kesuksesan Eka Tjipta patut mendapatkan acungan jempol. Mengapa? Karena ia berhasil memberikan contoh, bahwa semua orang berhak untuk bermimpi, termasuk bagi mereka yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah dengan sempurna.